[Movie] Stand By Me Doraemon Itu Film Anak-Anak (?)

doraemon_movie_stand_by_me_poster_japan_images_wallpaperRabu sore kemaren (17/12) saya dan anak-anak nonton film Stand By Me Doraemon. Film yang antreannya rame banget. Film yang katanya mengharuskan kita bawa tissue karena sedih banget. Ya, kata sana-sini, dikabarkan ini film terakhir Doraemon dan diceritakan Nobita berpisah dengan Doraemon.

Di awal diceritakan kalau cicit Nobita (Sewashi-san) mengunjungi kakek buyutnya (Nobita) bersama Doraemon. Nobita awalnya kaget karena tau-tau keluar 2 sosok yang gak dikenal dari laci meja belajarnya. Continue reading

[Movie] The Great Gatsby

Basic RGBDirector: Baz Luhrmann
Base on: The Great Gatsby by F. Scott. Fitzgerald
Starring: Leonardo Dicaprio, Carrey Mulligan, Tobey Maguire, Joel Edgerton, Isla Fisher, Elizabeth Debicki
Release: 2013

The Great Gatsby, film yang diadaptasi dari judul yang sama karya F. Scott Fitzgerald. Cerita dengan setting kota New York era 20-an, diawali dengan kisah Nick Carraway (Tobey Maguire) yang sedang menjalani rehabilitasi karena kecanduan alkohol. Berkat saran dari dokter, Nick lalu menuliskan kisahnya ketika tinggal di New York. Nick pun menulis tentang Gatsby (Leonardo Dicaprio), seorang milliuner misterius yang menjadi tetangga sekaligus sahabatnya.

Continue reading

[Movie] Gossip

GossipposterCredit

Jenis Film : Drama, Mystery, Thriller
Sutradara : Davis Guggenheim
Pemain : James Marsden, Lena Headey, Noorman Reedus, Kate Hudson, Eric Bogosian, Joshua Jackson

Cerita berawal dari 3 orang mahasiswa, yaitu Derrick Webb (James Marsden), Cathy Jones (Lena Headey), dan Travis (Norman Reedus) yang tinggal bersama, menyewa sebuah studio. Tidak hanya tinggal bersama, mereka juga sama-sama mengambil mata kuliah komunikasi – Prof. Goodwin (Eric Bogosian). Saat itu, Prof. Goodwin sedang mengajarkan tema gossip. Dan untuk tugas akhir, ketiga sahabat itu sepakat untuk membuat gossip dan melihat hasil akhirnya.

Continue reading

[Movie] Rio 2

Rio 2Credit

Jenis Film : Animasi, Comedy
Produser : Bruce Anderson, John C. Dunkin
Produksi : 20th Fox Century
Sutradara : Carlos Sadanha

Rio 2, seperti judulnya merupakan kelanjutan dari film Rio 1. Masih menceritakan tentang kehidupan Blu, burung macaw biru. Kali ini Blu diceritakan sudah menikah dengan Jewel dan memiliki 3 ekor anak.

Tinggal di sebuah flat di kota Rio membuat Blu dan keluarga terbiasa dengan suasana kehidupan serta perlengkapan perkotaan. Televisi, listrik, pancake, dan segala hal yang ada di kota sudah akrab dengan Blu dan ketiga anaknya. Hanya Jewel, sang istri, yang kadang ingin mengajarkan anak-anaknya kehidupan alam bebas.

Suatu hari mereka menonton televisi dimana Tulio dan Linda, pasangan peneliti, menduga masih ada burung macaw di hutan amazon. Jewel memutuskan mengajak keluarganya untuk pergi ke Amazon karena selama ini berpikir merekalah satu-satunya kelompok burung macaw biru yang tersisa.

Awalnya, Blu dan anak-anaknya keberatan. Walopun akhirnya menurut keinginan Jewel. Tentu aja Blu membawa segala perlengkapan modern manusia seperti GPS, tas pinggang, dan lain-lain.

Setelah menempuh perjalanan panjang menuju amazon, mereka pun akhirnya bertemu dengan kelompok besar burung macaw biru. Di sinilah masa lalu Jewel terkuak. Eduardo, pemimpin kelompok burung macaw biru adalah ayah Jewel.

Pertemuan yang mengharukan dengan putrinya yang lama menghilang, merasa terkejut sekaligus gembira karena memiliki cucu dirasakan oleh Eduardo. Tapi, Eduardo tidak langsung bisa menerima Blu sebagai menantunya apalagi melihat Blu akrab dengan barang-barang manusia.

Eduardo membenci manusia. Manusia membuat Eduardo dan kelompoknya harus menyingkir dari tempat tinggal mereka selama ini. Bahkan karena ketamakan manusia pula, Eduardo sampai harus kehilangan putrinya hingga bertahun-tahun lamanya karena tempat mereka hancur.

Tidak diterimanya Blu oleh mertua, ditambah lagi dengan rasa cemburunya ketika melihat Roberto. Burung Macaw biru jantan yang gagah dan pandai bernyanyi, teman akrab masa kecil Jewel serta menjadi anak emas Eduardo. Jewel pun menolak untuk kembali ke kota, membuat Blu memutuskan untuk kembali ke kota sendirian.

Film Rio ini bercerita tentang lingkungan hidup. Ketamakan manusia yang menggunduli hutan amazon. Aksi heroik Blu yang akhirnya bisa membuat seluruh warga hutan dan manusia (Tulio dan Linda) bersatu melawan manusia-manusia tamak. Bahkan Blu pun akhirnya bisa diterima oleh mertuanya.

Diselipkan juga cerita tentang pertandingan sepakbola untuk memperebutkan makanan antara kelompok macaw biru dan macaw merah gara-gara ulah Blu. Pertandingan sepakbola ini sebetulnya seperti iklan terselubung karena yang kita semua tahu, tahun 2014 ini pertandingan dunia sepakbola FIFA akan digelar di Brasil. Bahkan menurut rencana laga finalnya akan digelar di kota Rio De Jainero.

Jadi, gak hanya sepakbola, film ini pun sarat dengan lagu dan tarian. Sepertinya ingin memperlihatkan kemeriahan Brasil menyambut Piala Dunia 2014. Sebagai penonton tentu saja saya senang nonton film musikan seperti ini.

Masih ingat karakter Nigel, seekor burung kakaktua jahat yang menjadi musuh Blu di Rio 1? Kali ini Nigel tetap menjadi karakter jahat. Walopun sudah tidak bisa terbang, Nigel tetap berusaha memburu Blu untuk balas dendam. Namanya juga film komedi, adegan dan celotehan kocak pun mengalir di sini.

Oiya, ada 1 quote yang terus diucapkan berulang-ulang dan menjadi quote favorite saya, yaitu “Happy Life, Happy Wife”. Saking cintanya Blu dengan istrinya, walopun sempet terpikir untuk kembali ke kota sendirian, quote ini selalu dipegang oleh Blu ๐Ÿ™‚

[Movie] Hearts On Fire

second-chancescredit

Hearts on fire atau saya harus menyebutnya Second Chances (?), karena saya sejujurnya bingung dengan judul film ini. Film yang tayang di pertengahan 2013 di Hallmark Channel Original Movies iniย  diberi judul Second Chances (Pevious tittle adalah Two In). Tapi, di Lifetime Channel, filmnya berjudul Hearts On Fire.

Jalan ceritanya sama persis. Pemain utamanya pun sama, yaitu Alison Sweeney dan Greg Vaughan. Saya gak mencari tau lebih lanjut, kenapa judul filmnya bisa berbeda, karena yang penting adalah saya suka dengan filmnya. Titik! ๐Ÿ™‚

Hearts on fire menceritakan tentang Jenny McLean (Alison Sweeney), seorang single mom, bekerja sebagai operator 911. Jenny memiliki sepasang anak, yaitu Elsie (8 tahun) dan Luke (6 tahun).

Sebagai operator 911, Jenny sering berhubungan dengan banyak orang melalui telpon. Salah satunya adalah seorang petugas pemadam kebakaran yang bernama Jeff. Awalnya, mereka tidak mengetahui nama asli masing-masing. Jenny memanggil ‘Cowboy’ untuk Jeff. Dan, Jeff memanggil Jenny itu ’23’. Mereka pun suka saling menggoda melalui telpon.

Ketika Jeff mengalami kecelakaan saat melakukan tugas, Jenny spontan datang menjenguknya sambil membawakan kue. Di situlah pertama kali mereka bertemu secara langsung. Jenny pun memberi nomor telpon melalui kertas yang bertuliskan iklan penyewaan kamar.

Jenny yang saat itu sedang kesulitan keuangan karena ada pemotongan anggaran dari kantornya, berniat untuk menyewakan salah satu kamar di rumahnya untuk mendapatkan uang tambahan. Jeff yang selama masa penyembuhan oleh dokter dilarang keras untuk naik tangga dan memanjat, terpaksa harus mencari tempat tinggal baru karena selama ini dia tinggal di lantai 3.

Jeff pun berniat untuk tinggal di rumah Jenny. Awalnya, Jenny merasa canggung. Tapi, kedua anaknya, yang menjadi penentu siapa yang boleh dan tidak menyewa kamar tersebut, langsung menyukai Jeff sejakย  pertama kali bertemu.

Ketika Jenny dan Jeff belum pernah saling bertemu, hanya flirting melalui telpon, tidak ada satupun kata romantis menggoda yang gimaanaaaa gituuu.. Sebetulnya, mereka saling berkomunikasi setiap kali ada insiden. Tapi, ya, namanya kalau diem-diem udah saling suka, cuma denger suaranya aja pasti udah bisa bikin kita senyum-senyum, kan. ๐Ÿ™‚

Setelah Jeff tinggal di rumah Jenny pun gak ada yang namanya adegan romantis seperti umumnya film percintaan. Jeff berhasil mendekati anak-anak Jenny tanpa kesan terlihat memaksa. Misalnya, menemani mereka main di halaman rumah, walopun Jeff cuma bisa sambil duduk sementara anak-anak berlarian.

Di saat Elsie, putri Jenny, sempat menolak untuk datang ke acara ulang tahun sahabatnya, Natalie, karena takut kakak Natalie akan mengganggu acara dengan mengeluarkan ular peliharaannya, Jenny pun mengizinkan Elsie untuk tidak datang. Tapi, Jeff berhasil meyakinkan Elsie untuk berani datang dengan memberi “kode-kode rahasia”.

Luke yang mendapat tugas menulis salah satu tokoh terkenal, merasa bosan kalau harus menulis tokoh terkenal yang mainstream, seperti presiden, bunda Theressa, dan beberapa tokoh lainnya. Menurutnya, terlalu biasa dna membosankan, semua orang kalau disuruh menulis tentang tokoh terkenal pasti yang ditulis tokohnya itu-itu aja. Jenny memaksa dengan alasan yang penting tugas selesai. Tapi, Jeff memberi setuju dengan Luke dan menawarkan Harry Houdini untuk ditulis. Luke pun semangat bahkan dia mendapat penialain sangat bagus dari sekolah.

Jeff dan Jenny sebetulnya mempunyai rasa trauma yang mirip-mirip. Rasa kehilangan seseorang yang amat sangat. Suami Jenny meninggalkannya begitu saja saat Elsie berusia 5 tahun dan Luke 3 tahun. Hal itu menimbulkan trauma termasuk untuk anak-anak, dan khususnya Luke yang sangat kehilangan sosok ayah. Sedangkan, Jeff yang ayahnya adalah seorang pemadam kebakaran, tewas saat Jeff berusia 10 tahun.

Seperti yang saya tulis di atas, peran kakak-beradik, Elsie dan Luke juga menggemaskan. Mereka khawatir dengan kesulitan keuangan ibunya dan memutuskan untuk mencari uang secara diam-diam. Dialog-dialog segar khas anak-anak tentang pekerjaan apa yang pas buat mereka, membuat saya senyum-senyum.

Mereka akhirnya memutuskan menjadi pembaca buku cerita di salah satu panti jompo. Awalnya, Luke menolak usul itu. Katanya, kenapa gak setel CD aja? Padahal alasan sebenarnya adalah Luke merasa belum lancar membaca hehehe.

Elsie pun bertanya ke adiknya, “Ketika kamu mesih kecil. Kamu lebih suka mendengar cerita dengan cara didongegin atau distelkan CD?” Luke lantas bilang kalau dia lebih suka didongengin. Jadi, dia pun setuju dengan saran kakaknya.

Mereka diam-diam membuat brosur sederhana. Trus, Elsie bilang kalau harus ada kata profesional di depan kata pembaca buku. Biar terkesan profesional hihihi. Malah, Elsie memutuskan untuk menulis cerita sendiri untuk dibacakan daripada membacakan buku yang sudah ada.

Para lansia pun suka sekali dibacakan cerita oleh mereka. Dengan suka rela membayar ke Elsie dan Luke. Ada bagian dimana di awal, Luke terlihat terbata-bata membacanya, dan kemudian dia menyerah. Dia pun bilang gak usah dibayar karena gak mampu membacakan cerita.

Seorang kakek yang sedang mendengarkan cerita Luke pun memberi saran kalau membaca itu sebaiknya pelan-pelan. Luke merasa kalau membaca pelan-pelan akan membuat pendengar bosan. Setelah dijelaskan kalau membaca dengan pelan justru gak akan bikin bosan, Luke pun mau membaca kembali. Lama-lama dia pun lancar membaca.

Ketika hubungan semakin dekat, gak seru, dong, kalau gak ada konfliknya. Saat Jenny sedang bertugas, dia dihubungi kalau sedang terjadi pengejaran antara pencuri kendaraan dengan polisi. Sebagai operator 911, dia harus terus berkomunikasi dengan petugas polisi. Yang kemudian salah satu petugas tersebut tabrakan dan tewas.

Kejadian tersebut bikin Jenny terkejut. Dia jadi berpikir, mempunyai pasangan dengan pekerjaan yang beresiko tinggi itu menakutkan. Dia gak ingin, seandainya ketika sudah bersama dengan Jeff, akan mendengar kabar kalau Jeff tewas. Dia gak ingin dirinya dan anak-anak trauma kedua kalinya.

“Pertama, aku sangat mengerti ketakutanmu. Tapi, yang gak bisa aku mengerti adalah… kenapa kamu membiarkan hidup dengan pikiran ‘seandainya’?” kata Jeff ketika Jenny meminta putus

Hearts on fire, ceritanya sederhana banget sebetulnya. Kisah cinta romantis tapi tanpa terlihat nafsu yang meletup-letup. Bahkan bisa juga dibilang kisah keluarga. Beberapa kali dialog tentang keluarga, terutama percakapan antara 2 kakak-beradik, Elsie dan Luke, bikin saya gemas. Kekuatan film ini ada di dialognya yang sederhana, tapi mengena bagi saya.

Diantara beberapa dialog yang saya suka adalah tentang pikiran ‘seandainya’ itu. Mak jleb! Mungkin, karena saya kadang suka begitu kali, ya. Jadi berasa juga hahaha.

Endingnya udah bisa ditebak juga, sih. Happy ennding alias jadian. Tapi, cara Jeff menyelesaikan keraguan Jeany dengan pikiran ‘seandainya’ itu. Yang namanya perempuan mikirnya suka pake perasaan, sedangkan laki-laki lebih ke logika (katanya, sih, begitu). Nah, Jeff ini bisa menyelesaikan dengan cara ‘karena wanita ingin dimengerti” hehehe.

Pokoknya, saya suka sama film ini. Makanya, reviewnya juga lumayan panjang hahaha. Dan, gara-gara film ini juga kepala saya sakit. Abis 2x kali nonton berturut-turut. Baru tidur pukul 02.30 dinihari, pagi-pagi udah harus bangun. Tapi, kalau nonton lagi, saya juga gak keberatan, kok ๐Ÿ˜€