[TV Show] Photo Face-Off

PFO show page banner 2Sumber

Kiri ke kanan: Jia Jun, Richard, Justin Mott, Willy Lesmana, Christy, Phuong

Ketika pertama kali saya melihat tayangan ini, yang langsung teringat adalah pendapat Mbak Dey tentang hasil sebuah foto. Ketika melihat sebuah foto yang keren, faktor mana yang paling mempengaruhi? ‘Man Behind The Gun’ atau ‘The Gun’?

Mbak Dey pernah membuat postingan yang berjudul ‘Tentang Kamera‘. Tentang perdebatannya dengan salah seorang blogger juga. Kalau Mbak Dey berpendapat ‘The Man Behind The Gun’ lah yang berpengaruh, lawan bicaranya berpihak ke ‘The Gun’. Ya, iyalah kalau sama berarti gak ada perdebatan hehehe..

Continue reading

Advertisements

[TV Show] Let Me In

Acara reality show asal Korea ini sebetulnya sudah beberapa kali saya baca di berbagai blog atau web. Tapi, belum juga berhasil menarik perhatian saya untuk menonton. Satu-satunya acara Korea yang sempat saya ikuti terus adalah Korea Masterchef :p

Acara yang tayang di Channel M, sebuah channel televisi yang khusus menayangkan segala hal dari Korea, paling hanya sesekali aja saya tonton. Itupun kalau saya sedang pindah-pindah channel tv saja.

Let me in adalah reality show tentang warga Korea yang ingin melakukan operasi plastik secara gratis. Awalnya, tayangan ini hanya untuk perempuan Korea yang ingin operasi plastik saja. Tapi memasuki seri ke-3, laki-laki pun mulai bisa ikut.

Untuk kita yang ada di Indonesia, operasi plastik seperti bukan sesuatu yang lazim diungkap secara blak-blakan. Masih banyak menimbulkan pro-kontra. Tapi katanya kalau di Korea sih udah wajar yang namanya operasi plastik.

Beberapa hari lalu, entah mengapa saya menonton acara ini sampau tuntas. Dan kemudian dilanjut sampai beberapa hari berikutnya. Saya menonton acara tersebut lumayan lama.

Bukan karena saya menjadi suka dengan acara tersebut. Dan bukan juga saya penasaran seperti apa penampilan yang telah di operasi plastik *ada sih sedikit pesarannya :p* Tapi, saya penasaran sama cerita-cerita dibalik keinginan para peserta untuk operasi plastik.

Setelah saya menonton beberapa episode, saya menangkap benang merahnya adalah BULLY. Mereka yang merasa wajah dan badannya jelek, seringkali di bully oleh lingkungan bahkan keluarganya sendiri.

let-me-in

Saya pernah nonton peserta yang ini. Gak sampai tuntas sih. Peserta tersebut selalu dibully karena wajahnya yang seperti cowok. Bahkan dalam hal pekerjaan, yang mau menerima adalah pekerjaan kasar seperti kuli panggul. Yang tidak semua orang tau, di sekujur tubuhnya tumbuh bulu-bulu lebat seperti laki-laki.

Ada seorang ibu yang bercerita dulu suaminya sebelum menikah selalu datang kepadanya setiap hari, memuji dan mengajaknya menikah. Setelah menikah dan punya anak, badan ibu tersebut menjadi gemuk *kalau kata saya sih gak gemuk-gemuk amat sebenarnya.

Sejak badannya menggemuk, tiada lagi pujian dari suaminya. Yang ada malah menyindiri. Bahkan suaminya makin sering gak pulang ke rumah. Kalau pulang cuma buat naruh cucian kotor.

Anak-anaknya pun bersikap sama. Mereka seringkali menolak diantar sekolah oleh ibunya. Katanya mereka malu dengan badan ibunya yang gemuk seperti babi.

Kasus kedua adalah seorang perempuan yang badannya terus gemuk hingga overweight. Karena terus menerus di bully gara-gara gemuk, dia pun bertekad menguruskan badan dengan diet dan olahraga.

Usahanya berhasil. Badannya menjadi kurus. Hanya saja yang gak diketahui oleh banyak orang adalah dia memiliki banyak sekali kulit yang menggelambir di beberapa bagian tubuhnya.

Untuk menutupinya, dia selalu memakai pakaian tertutup bahkan saat musim panas sekalipun. Padahal teman-temannya banyak yang memakai pakaian lebih terbuka saat musim panas. Sesuatu yang gak mungkin dia lakukan karena kulit menggelambirnya akan terlihat.

Untuk kasus pertama, si ibu ditolak permintaannya oleh tim dokter Let Me In. Alasanya, untuk kasus ibu tersebut masih bisa ditangani dengan berolahraga asal ada kemauan. Sedangkan kasus kedua memang membutuhkan operasi plastik. Operasi plastik yang dilakukan tidak hanya membuang sisa kulit yang dia miliki. Tapi, operasi plastik total hingga ke wajah.

Wajah-wajah yang di operasi plastik memang menghasilkan wajah yang jauh beda dengana slinya. Menjadi cantik. Tapi, yang membuat saya miris adalah tentang bullynya itu.

Kalau saya lihat alasan-alasan mereka, bully yang mereka terima memang kejam-kejam, ih. Sampe segitunya orang ngebully seseorang yang memiliki wajah yang dianggap jelek. Dan, yang ngebully itu gak cuma 1-2 orang loh. Di berbagai lingkungan, mereka selalu dibully. Termasuk di bully oleh anak-anak mereka! Mereka bahkan dibully sejak kecil. Gak heran sih kalau mereka trauma dan merasa ingin operasi plastik.

Let Me In memang belum jadi acara favorit saya. Tapi, setidaknya acara ini bisa bikin saya berkaca dan merenung. Semoga saya gak pernah membully orang seperti itu. Apalagi mengejek fisik seseorang.

Sumber foto :

 

[TV Show] One Born Every Minute UK

One Born In Every Minutecredit

“Chi, lo mending jangan nimbrung ke sini, deh! Nanti, lo bisa takut. Gabung sama yang lain aja,” kata salah seorang teman yang sedang asik ngobrol dengan seorang teman saya lainnya tentang pengalaman mereka melahirkan normal.

Terkesan kasar? Enggak juga, sebenarnya. Kedua teman saya itu sudah pernah melahirkan. Sedangkan saat itu, saya masih mengandung anak pertama. Mereka khawatir, kalau mendengar cerita pengalaman mereka melahirkan normal, saya akan menjadi ketakutan dan stress. Padahal yang namanya ibu hamil, kan, gak boleh stress. Jadi, saya diminta untuk bergabung dengan teman-teman lain.

Saya tetap memilih bergabung dengan mereka. Saya justru penasaran, seperti apa proses melahirkan normal. Dalam bayangan saya saat itu, membayangkan melahirkan dengan cara caesar justru lebih bikin saya stress. Walopun, akhirnya 2x melahirkan, 2x pula saya operasi caesar hehehe.

Oke, saya gak akan cerita tentang proses melahirkan yang saya alami. Saya justru ingin cerita reality show One Born Every Minute UK yang sering saya tonton di Lifetime Channel. Reality show tentang proses melahirkan gitu. Nah, kalau ada yang takut membayangkan, mendingan jangan baca postingan ini :p

Di setiap episode, biasanya ada 2 perempuan yang akan melahirkan secara normal. Ya, di reality show dari Inggris  ini, cuma menceritakan proses melahirkan normal. Kalaupun akhirnya ada yang operasi (tapi jarang banget), setelah menjalani proses normal dulu.

Sepanjang tanyangan yang di tunjukkan hanya di seputaran rumah sakit. Bahkan, di kamar yang akan melahirkan aja kebanyakan. Sesekali memang ditayangkan wawancara singkat  tentang kehidupan mereka, dari mulai jatuh cinta hingga berkeluarga. Dan, gak semuanya itu sudah terikat pernikahan. Ada juga yang hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Tapi, gak usah dibahas panjang tentang hal itunya, ya. Karena yang akan saya ceritakan adalah tentang proses melahirkannya.

Walopun hanya di kamar dan semua melahirkan secara normal, tapi selalu ada aja yang berbeda. Kondisi fisik setiap ibu melahirkan berbeda-beda. Ada yang terus-terusan menangis, ada yang keliatan biasa aja, malah pernah ada yang tetep full make up waktu mau melahirkan.

Cara melahirkan pun berbeda-beda. Ada yang terlentang, miring, nungging, dan lainnya. Walaupun begitu, untuk bagian-bagian privasi perempuan, semua di blur. Jadi, jangan harap bisa melihat bagian-bagian tersebut secara jelas, ya.

Mereka semua melahirkan di rumah sakit dengan peralatan yang canggih dan ditangani oleh bidan. Dan, semua bidannya perempuan yang ramah-ramah. Kalau memang terjadi sesuatu hal, dimana tidak memungkinkan untuk melahirkan normal baru diminta untuk melakukan operasi. Kalau udah masuk ruang operasi, tentu bukan bidan lagi yang menangani, tapi sudah dokter. Dan, kalau sudah masuk ruang operasi bisa ditangani oleh dokter laki-laki.

Gak cuma tentang cara melahirkan normal beserta ekspresi para perempuan yang sedang melahirkan. Para pria pun beragam karakternya ketika istri atau pasangan hidupnya sedang berjuang ternyata.

Ada yang kelihatan kalut. Mondar-mandir di lorong rumah sakit terus. Sambil ngedumel tentang kelakuan istrinya yang nangis terus. Yeeeaaayyy, itu suami gak ngerasain, sih, gimana mulesnya saat kontraksi, ya hehehe. Ada yang tenang dan tetap menemani pasangannya. Tapi, ada juga yang kelihatan cuek padahal istrinya udah nangis-nangis hihihi.

Bidan yang menangani pun ada sesi wawancara. Menceritakan kondisi, perempuan yang akan melahirkan yang sedang mereka tangani. Dan, cerita pengalaman mereka, suka duka menjadi bidan.

Bagian yang paling saya suka di setiap episode adalah ketika bayinya sudah lahir. Mau selama proses melahirkan kitanya jerit-jerit, suaminya cuek sekalipun, begitu si bayi lahir suasana berubah menjadi haru. Bahkan seorang calon ayah, yang penampilannya urakan sekalipun, bisa terlihat menitikkan air mata ketika bayinya lahir.

Saya juga ikut terbawa suasana, ketika seorang bayi lahir dengan kondisi tanpa tangisan. Suasana terlihat tegang. Saya juga ikut sedih melihat ekspresi ibu yang baru saja melahirkan tersebut terlihat sedih sangat sedih tapi gak bisa menangis. Setelah bayinya bisa menangis dengan kencang, tangisan ibu tersebut pun juga keluar. Tangisan yang lepas tapi bahagia.

Sesekali ada juga cerita sedih, mislanya bayi yang dilahirkan sangat kecil dan beberapa organ belum berkembang. Sedih lihat ekspresi orang tuanya. Kalau seperti itu biasanya akan diperlihatkan gimana perawatan selama di rumah. Dan, setelah bayinya berumur beberapa bulan.

Di salah satu episode, ada yang kasusnya mirip kayak yang saya alami. Udah pembukaan komplit, coba mengejan, tapi posisi bayi memang menyulitkan. Bidan pun menjelaskan resiko-resiko kalau tetap normal atau operasi. Hmmm… persis seperti saya. Cuma bedanya dari awal, normal atau tidak saya ditangani dokter hihihi

Menurut reality show yang satu ini gak dibuat-buat. Walopun mungkin sebelum syuting ada perjanjian-perjanjian tertentu yang harus disepakati. Tapi, untuk kejadiannya sendiri, saya yakin nyata. Rasanya, gak mungkin kalau mereka semua ada yang pura-pura hamil, pura-pura jadi bidan, dan lainnya.

Cerita kehidupan memang seringkali panjang. Tapi, buat saya selalu ada proses mengharukan dan membahagiakan di setiap kelahiran.

[TV Show] There’s No Taste Like Home

There's No Taste Like Home

credit

There’s No Taste Like Home adalah sebuah kompetisi memasak yang tayang di Li Tv. Dibawakan oleh seorang celebrity chef, Gino D’Acampo.

Setiap episode, ada 3 orang peserta yang ikut kompetisi. Mereka bukanlah chef. Mereka hanyalah orang yang suka memasak di rumahnya masing-masing. Para peserta akan memasak 1 masakan utama yang menjadi andalan mereka di rumah untuk dimasak di dapur sebuah resto. Karena untuk dimasak di restoran, tentu aja tampilan masakan tersebut dibikin cantik tanpa merubah resep aslinya.

Pemenang di setiap episode, menu masakannya akan menjadi salah satu menu utama di resto tersebut selama sebulan. Yang menjadi juri adalah pemilik resto dan head chef di resto tersebut, serta Gino D’Acampo.

Yang paling bikin saya suka dari There’s No Taste Like Home bukanlah masakannya. Ya, memang ada beberapa masakan yang kelihatannya menggiurkan. Tapi, banyak juga masakan yang menu utamanya adalah daging babi. Sesuatu yang tentunya gak mungkin saya santap.

Bukan juga karena melihat gimana grabak-grubuknya para peserta dari mulai memasak hingga menyajikan makanan yang dipesan. Seru, sih, karena biar gimana mereka tidak punya pengalaman sebagai chef.

Tapi, bagian yang paling suka adalah cerita di balik masakan tersebut. Masakan yang dimasak tidak hanya sekedar andalan. Ada cerita nostalgia dibaliknya.

Ada peserta yang bercerita kalau kakek buyutnya adalah dulunya termasuk chef kerajaan. Dan, masakan tersebut adalah kesukaan raja yang memimpin saat itu. Ada juga yang cerita kalau masakan yang akan dimasak, dulu adalah masakan untuk para tentara. Karena buyutnya adalah tukang masak saat itu.

Ada juga yang bercerita tentang kisah cinta romantis dibalik masakan tersebut. Ada yang bernostalgia kalau dulu dia miskin. Jadi, masakan tersebut merupakan sebuah masakan mewah yang sangat ditunggu-tunggu, karena hanya ada di hari spesial.

Macam-macam ceritanya. Udah gitu, mereka yang berkompetisi kebanyakan keturunan ke-3, ke-4, bahkan lebih. Jadi, masakan yang akan mereka masak itu memang sudah turun temurun sekian lama. Benar-benar melegenda di keluarga mereka, begitu juga dengan cerita di baliknya.

Mamah saya itu pintar sekali memasak. Rasanya gak ada masakannya yang gak enak. Tapi, setelah nonton There’s No Taste Like Home, saya baru sadar kalau gak pernah tau apakah ada cerita dibalik setiap masakan mamah. Rasanya, sih, gak ada. Masak ya masak aja, yang penting enak hihihi.

Bahkan, saya pun rasanya juga gak punya cerita khusus dibalik setiap masakan saya. Gak apa-apa juga, sih. Tapi, kayaknya seneng juga, ya, kalau paling tidak ada 1 masakan yang memang ada cerita dibaliknya 🙂

[Tv Show] Put Your Money Where Your Mouth Is

Put Your Money Where Your Mouth Is
credit

Put Your Money Where Your Mouth Is adalah sebuah acara lomba memasak di tv antar 2 chef yang sudah ternama di setiap episodenya. Di setiap episode, 2 orang chef tersebut ditantang untuk membuat 3 masakan, yaitu masakan pembuka, utama, dan penutup.

Mungkin dalam bayangan kita, gak akan sulit bagi seorang chef membuat 3 masakan tersebut. Apalagi yang berkompetisi adalah chef-chef ternama di Inggris. Ya, mungkin kalau ‘hanya’ sekedar memasak tidak akan sulit bagi mereka. Teknik mereka udah jago. Tapi, di acara tersebut para chef gak hanya ditantang untuk memasak, mereka juga ditantang untuk bisa berjualan.

2 orang chef diminta untuk membuat 3 masakan tersebut di resto yang sudah ditunjuk. Diakhir tayangan, chef yang berhasil mengumpulkan laba terbanyak menjadi pemenangnya. Dan uang hasil penjualan tersebut akan disalurkan ke lembaga sosial yang sudah ditunjuk oleh para chef yang berkompetisi.

Bagi, saya yang menarik di acara ini adalah bagian menjual masakannya. Mereka ditantang untuk berstrategi di sana. Apalagi resto yang ditunjuk bukanlah zona nyaman mereka. Misalnya, di salah satu episode di tunjuk salah satu resto karibia. 2 orang chef tersebut tidak ada yang pernah memasak masakan karibia.

Strategi yang saya lihat di Put Your Money Where Your Mouth Is adalah:

  1. Pengeluaran minimal, penghasilan maksimal – di setiap episode, para chef mempunyai modal yang sama. Biasanya antara 400-500 poundsterling, tergantung restonya. Dan, modal tersebut harus cukup untuk membeli bahan-bahan makanan hingga makanan penutup. Syukur-syukur jangan habis semua, biar bisa buat nambah laba. Tapi, ada juga chef yang gak ragu belanja mahal karena yakin masakannya bakal laku. Di sini diperlihatkan, bagaimana mereka bernegosiasi dengan para supplier supaya mendapatkan harga murah. Kadang, ada tips-tips juga dari mereka, gimana caranya membeli bahan baku yang murah tapi tetep kelihatan mewah hasilnya. Trus, gimana mereka menentukan harga setiap hidangan tersebut.
  2. Kenali pasar – Teknik masak udah pasti jago deh mereka. Tapi, gak otomatis masakan mereka bakal laku, lho. Contohnya, di resto Karibia, ternyata pelanggannya kebanyakan suka yang tradisional alias masakan asli Karibia. Jadi, ketika ada salah satu chef yang senang bereksperimen, akhirnya kalah. Ketika ada tantangan masak di resto gastronomy, shef yang paling berani bereksperimen jadi pemenangnya. Di acara itu juga gak selalu resto mewah, kok, Jadi, menentukan harga pun harus tepat. Ada resto yang pelanggannya rela bayar mahal, tapi ada juga yang enggak.
  3. Menarik hati pelanggan – Untuk makanan pembuka dan utama, chef sudah menentukan harga jual. Untuk makanan penutup harga jual gak ditentukan alias terserah pelanggan mau bayar berapa. Sebelum makanan penutup dihidangkan, para chef akan keluar dari dapur dan menemui pelanggan. Mereka akan berpromosi makanan penutupnya. Ada yang dengan cara merayu, ada yang formal, bahkan ada yang ‘menjatuhkan’ chef lain. Kalau saya perhatikan, apapun caranya jualnya, yang paling banyak menjual adalah makanan yang kelihatannya enak.

Setiap chef, mendapat tiga kali tantangan alias 3 episode. Misalnya, Chef A vs Chef B akan berkompetisi selama 3 episode dengan 3 resto yang berbeda. Dan, gak selalu yang jadi pemenang adalah chef yang itu-itu terus. Tergantung apakah strategi yang mereka pasang tepat atau enggak.

Asik lihatnya. Bisa dijadiin pelajaran juga buat saya, siapa tau suatu saat pengen buka usaha (lagi). Pelajaran kalau yang namanya bisnis itu mempunyai strategi adalah sesuatu yang penting.

Dan, yang saya suka lagi di Put Your Money Where Your Mouth Is adalah gak ada yang namanya berantem-berantem gak jelas. Alias drama-drama yang berlebihan. Termasuk sportif, mereka berkompetisinya. Kayaknya saya memang udah mulai jenuh dengan realty show yang terlalu banyak dramanya 🙂

[Tv Show] Wife Swap

Wife SwapWife Swap adalah tayangan reality show dari USA yang biasa saya tonton di lifetime channel. Setiap episode Wife Swap memperlihatkan 2 keluarga saling bertukar istri selama 2 minggu.

Apaaa??? Tukeran Istriiiii?? *Berteriak sambil berekspresi kayak pemain sinetron

Tenaaanngg! Walaupun saling bertukar istri, gak ada adegan romantis di sini. *Ya iyalah! Masa’ mau romantisan sama istri orang hehehe

Secara sederhana, ada 4 tahap dari setiap episode. Pertama, para istri yang ditukar (kayak judul sinetron, ya :p) akan diminta beradaptasi sekaligus mengamati situasi di keluarga barunya.

Kedua, 1 hari kemudian si istri kemudian ratu di rumah itu dengan membuat beberapa peraturan. Ada peraturan rumah yang diperbaiki ada pula yang diubah total. Dan itu berlaku selama 2 minggu

Ketiga, setelah 2 minggu, kedua keluarga (tanpa anak-anak) saling bertemu. Menceritakan pengalaman serta memberi kritik-saran yang suka diisi dengan pertengkaran walopun akhirnya saling berbaikan *Ya, namanya juga reality shoe 😀

Keempat, setelah beberapa minggu, kedua keluarga akan diliput lagi. Apakah kehidupan mereka tetap sama atau ada perubahan walaupun sedikit.

Yang menarik, acara Wife Swap seperti ‘membenturkan’ 2 keluarga yang saling bertentangan. Misalnya, keluarga yang sangat tradisional (gak mengenal teknologi) di tukar dengan keluarga yang sangat modern. Keluarga yang snagat religius ditukar dengan keluarga yang percaya mistis. Dan lain sebagainya.

Bertukar dengan keluarga lain yang latar belakang sangat bertolak belakang tentu aja bukan pilihan mudah. Seperti seorang istri yang keluarganya religius, menjadi ketakutan setiap saat. Sampai bilang kalau kemana-mana, bahkan tidur sekalipun, selalu memeluk alkitab.

Istri yang selalu memperhatikan takaran makanan dan kesehatan, awalnya kesulitan ketika mengatur keluarga barunya yang sangat gemar makan. Meminta keluarga barunya berdiet dan berolahraga, itu gak mudah.

Ketika kedua keluarga saling bertemu, awalnya suka saling ribut. Masing-masing mengatakan ada yang perlu diperbaiki dari keluarga barunya itu. Tapi, kemudian disanggah kalau keluarga mereka baik-baik aja. Yaaa.. pada gak mau terima kritikan duluan. Walopun akhirnya saling baikan.

Di akhir episode, diperlihatkan keadaan masing-masing keluarga. Biasanya ada sedikit perubahan. Kayak keluarga yang sangat tradisional itu. Setelah dikritik kalau mereka tidak memberikan anak-anaknya bermain, mereka kemudian memberikan waktu bagi anak-anaknya 10 menit setiap hari untuk main gadget. Selebihnya, ya, tetep bantuin orang tua beternak dan berladang hehe. Tv dan microwave pun dikeluarin. Kembali ke tradisional.

Begitu juga dengan keluarga yang modern itu. Tadinya, si istri seneng banget dugem. Anaknya diasuh sama pengasuh laki-laki yang kalau malem jadi temen si istri ngedugem (suaminya gak protes :D). Katanya, sih, setelah ikut Wife Swap brenti ngedugem. Pengasuh anaknya pun akhirnya mengundurkan diri karena si istri udah sering di rumah.

Salah satu contoh lagi di acara itu adalah ketika ada keluarga yang sangat suka makan bersama di rumah. Si istri juga sangat suka memasak. Masakan (yang menurut mereka) enak dan berlemak dengan porsi yang besar. Menurut mereka, waktu makan bersama adalah saatnya kebersamaan.

Sementara, keluarga lainnya adalah keluarga yang sangat menjaga bentuk tubuh dan juga untuk kesehatan. Takaran dan kandungan gizi makanannya sangat dijaga. Makan pun masing-masing karena makan bersama hanya akan membuat keluarga makan lebih banyak. Dan, itu gak bagus untuk bentuk tubuh katanya. Tidak ada kebersamaan.

Lebih baik mana? Sama aja. Keluarga yang suka makan, kebersamaannya berasa banget. Tapi, secara fisik mereka sekeluarga overweight. Sementara keluarga lain, postur tubuhnya seimbang. Tapi, gak ada kehangatan dalam keluarga.

Lihat, kan? Gak ada keluarga yang lebih baik dari keluarga lainnya. Semuanya sama. Ada plus-minusnya.

Awalnya bahkan sampe sekarang, saya menganggap ide reality show ini cukup gila. Walopun gak ada adegan romantis, tapi yang namanya ‘tukeran istri’ rasanya gimanaaaa gitu. Masih asing buat saya 😀

Memang ide reality show itu cukup gila. Tapi, pesan yang bisa saya ambil adalah, Jangan terlalu suka ikut campur urusan rumah tangga orang, deh. Setiap rumah tangga tidak ada yang sempurna. Selalu ada positif da negatif di dalamnya. Jadi, bukan berarti kita berhak mengatur telalu dalam, apalagi sampe berantem. Cukup kasih saran secukupnya aja, itupun serahkan ke pilihan setiap orang untuk menerima saran tersebut atau tidak.

[TV Show] Jo Frost : Extreme Parental Guide

jo frostcredit

Beberapa tahun lalu, saya sempet suka banget sama acara Nanny 911, bahkan sempet bikin tulisannya di blog yang lain dengan judul yang sama yaitu Nanny 911.

Nah, kalau sekarang saya lagi suka banget sama acara Jo Frost : Extreme Parental Guide. Sama-sama tentang parenting dan banyak tips bagus yang bisa kita dapetin.

Kalau boleh sedikit membandingkan, saya lebih suka acara Jo Frost ini karena lebih sesuai dengan realita. Maksudnya, setiap kali nonton Nanny 911, saya suka bertanya-tanya, “Apa iya permasalahan anak bisa selesai hanya dalam waktu 1 minggu?”. Tapi terlepas dari ‘keanehan’ itu, saya tetep suka acara Nanny 911 karena alsan banyak tips parenting yang bagus. Walaupun mungkin kalau saya yang praktekin bisa lebih dari 1 minggu selesainya.

Sementara kalau Jo Frost untuk 1 permasalahan bisa sampai hitungan minggu bahkan bulan (walaupun tetap dikemas dalam 1 episode). Jo Frost sendiri beberapa kali mengatakan kalau hubungan orang tua-anak terkadang seperti sebuah pertempuran. Untuk banyak hal orang tua harus menang, tapi caranya yang harus diperhatikan. Tips-tips parentingnya pun sama bagusnya kayak Nanny 911.

Hmmm … kayaknya setiap kali abis nonton Jo Frost, sy jadi punya ide postingan untuk saya tulis di blog http://www.kekenaima.com, nih. Paling gak untuk pengingat saya dalam hal parenting 🙂

Sambil nunggu tayangnya yang seminggu sekali di LifeTime Channel, saya mampir ke webnya aja dulu 🙂