[TV Show] There’s No Taste Like Home

There's No Taste Like Home

credit

There’s No Taste Like Home adalah sebuah kompetisi memasak yang tayang di Li Tv. Dibawakan oleh seorang celebrity chef, Gino D’Acampo.

Setiap episode, ada 3 orang peserta yang ikut kompetisi. Mereka bukanlah chef. Mereka hanyalah orang yang suka memasak di rumahnya masing-masing. Para peserta akan memasak 1 masakan utama yang menjadi andalan mereka di rumah untuk dimasak di dapur sebuah resto. Karena untuk dimasak di restoran, tentu aja tampilan masakan tersebut dibikin cantik tanpa merubah resep aslinya.

Pemenang di setiap episode, menu masakannya akan menjadi salah satu menu utama di resto tersebut selama sebulan. Yang menjadi juri adalah pemilik resto dan head chef di resto tersebut, serta Gino D’Acampo.

Yang paling bikin saya suka dari There’s No Taste Like Home bukanlah masakannya. Ya, memang ada beberapa masakan yang kelihatannya menggiurkan. Tapi, banyak juga masakan yang menu utamanya adalah daging babi. Sesuatu yang tentunya gak mungkin saya santap.

Bukan juga karena melihat gimana grabak-grubuknya para peserta dari mulai memasak hingga menyajikan makanan yang dipesan. Seru, sih, karena biar gimana mereka tidak punya pengalaman sebagai chef.

Tapi, bagian yang paling suka adalah cerita di balik masakan tersebut. Masakan yang dimasak tidak hanya sekedar andalan. Ada cerita nostalgia dibaliknya.

Ada peserta yang bercerita kalau kakek buyutnya adalah dulunya termasuk chef kerajaan. Dan, masakan tersebut adalah kesukaan raja yang memimpin saat itu. Ada juga yang cerita kalau masakan yang akan dimasak, dulu adalah masakan untuk para tentara. Karena buyutnya adalah tukang masak saat itu.

Ada juga yang bercerita tentang kisah cinta romantis dibalik masakan tersebut. Ada yang bernostalgia kalau dulu dia miskin. Jadi, masakan tersebut merupakan sebuah masakan mewah yang sangat ditunggu-tunggu, karena hanya ada di hari spesial.

Macam-macam ceritanya. Udah gitu, mereka yang berkompetisi kebanyakan keturunan ke-3, ke-4, bahkan lebih. Jadi, masakan yang akan mereka masak itu memang sudah turun temurun sekian lama. Benar-benar melegenda di keluarga mereka, begitu juga dengan cerita di baliknya.

Mamah saya itu pintar sekali memasak. Rasanya gak ada masakannya yang gak enak. Tapi, setelah nonton There’s No Taste Like Home, saya baru sadar kalau gak pernah tau apakah ada cerita dibalik setiap masakan mamah. Rasanya, sih, gak ada. Masak ya masak aja, yang penting enak hihihi.

Bahkan, saya pun rasanya juga gak punya cerita khusus dibalik setiap masakan saya. Gak apa-apa juga, sih. Tapi, kayaknya seneng juga, ya, kalau paling tidak ada 1 masakan yang memang ada cerita dibaliknya 🙂

Advertisements

[Tv Show] Put Your Money Where Your Mouth Is

Put Your Money Where Your Mouth Is
credit

Put Your Money Where Your Mouth Is adalah sebuah acara lomba memasak di tv antar 2 chef yang sudah ternama di setiap episodenya. Di setiap episode, 2 orang chef tersebut ditantang untuk membuat 3 masakan, yaitu masakan pembuka, utama, dan penutup.

Mungkin dalam bayangan kita, gak akan sulit bagi seorang chef membuat 3 masakan tersebut. Apalagi yang berkompetisi adalah chef-chef ternama di Inggris. Ya, mungkin kalau ‘hanya’ sekedar memasak tidak akan sulit bagi mereka. Teknik mereka udah jago. Tapi, di acara tersebut para chef gak hanya ditantang untuk memasak, mereka juga ditantang untuk bisa berjualan.

2 orang chef diminta untuk membuat 3 masakan tersebut di resto yang sudah ditunjuk. Diakhir tayangan, chef yang berhasil mengumpulkan laba terbanyak menjadi pemenangnya. Dan uang hasil penjualan tersebut akan disalurkan ke lembaga sosial yang sudah ditunjuk oleh para chef yang berkompetisi.

Bagi, saya yang menarik di acara ini adalah bagian menjual masakannya. Mereka ditantang untuk berstrategi di sana. Apalagi resto yang ditunjuk bukanlah zona nyaman mereka. Misalnya, di salah satu episode di tunjuk salah satu resto karibia. 2 orang chef tersebut tidak ada yang pernah memasak masakan karibia.

Strategi yang saya lihat di Put Your Money Where Your Mouth Is adalah:

  1. Pengeluaran minimal, penghasilan maksimal – di setiap episode, para chef mempunyai modal yang sama. Biasanya antara 400-500 poundsterling, tergantung restonya. Dan, modal tersebut harus cukup untuk membeli bahan-bahan makanan hingga makanan penutup. Syukur-syukur jangan habis semua, biar bisa buat nambah laba. Tapi, ada juga chef yang gak ragu belanja mahal karena yakin masakannya bakal laku. Di sini diperlihatkan, bagaimana mereka bernegosiasi dengan para supplier supaya mendapatkan harga murah. Kadang, ada tips-tips juga dari mereka, gimana caranya membeli bahan baku yang murah tapi tetep kelihatan mewah hasilnya. Trus, gimana mereka menentukan harga setiap hidangan tersebut.
  2. Kenali pasar – Teknik masak udah pasti jago deh mereka. Tapi, gak otomatis masakan mereka bakal laku, lho. Contohnya, di resto Karibia, ternyata pelanggannya kebanyakan suka yang tradisional alias masakan asli Karibia. Jadi, ketika ada salah satu chef yang senang bereksperimen, akhirnya kalah. Ketika ada tantangan masak di resto gastronomy, shef yang paling berani bereksperimen jadi pemenangnya. Di acara itu juga gak selalu resto mewah, kok, Jadi, menentukan harga pun harus tepat. Ada resto yang pelanggannya rela bayar mahal, tapi ada juga yang enggak.
  3. Menarik hati pelanggan – Untuk makanan pembuka dan utama, chef sudah menentukan harga jual. Untuk makanan penutup harga jual gak ditentukan alias terserah pelanggan mau bayar berapa. Sebelum makanan penutup dihidangkan, para chef akan keluar dari dapur dan menemui pelanggan. Mereka akan berpromosi makanan penutupnya. Ada yang dengan cara merayu, ada yang formal, bahkan ada yang ‘menjatuhkan’ chef lain. Kalau saya perhatikan, apapun caranya jualnya, yang paling banyak menjual adalah makanan yang kelihatannya enak.

Setiap chef, mendapat tiga kali tantangan alias 3 episode. Misalnya, Chef A vs Chef B akan berkompetisi selama 3 episode dengan 3 resto yang berbeda. Dan, gak selalu yang jadi pemenang adalah chef yang itu-itu terus. Tergantung apakah strategi yang mereka pasang tepat atau enggak.

Asik lihatnya. Bisa dijadiin pelajaran juga buat saya, siapa tau suatu saat pengen buka usaha (lagi). Pelajaran kalau yang namanya bisnis itu mempunyai strategi adalah sesuatu yang penting.

Dan, yang saya suka lagi di Put Your Money Where Your Mouth Is adalah gak ada yang namanya berantem-berantem gak jelas. Alias drama-drama yang berlebihan. Termasuk sportif, mereka berkompetisinya. Kayaknya saya memang udah mulai jenuh dengan realty show yang terlalu banyak dramanya 🙂