[Buku] Smiley Shark

smiley shark Judul : Smiley Shark – Hiu Murah Senyum
Pengarang : Ruth Galloway
Penerbit : Erlangga For Kids
ISBN : 979-781-128-

Blurp

Hiu murah senyum adalah ikan paling besar di lautan. Dia juga paling ramah dan jenaka – dan paling suka tersenyum! Tapi, mengapa ikan-ikan lain tidak mau bermain dnegannya?

Hiu murah senyum tidak mau tersenyum lagi. Sampai… senyu lebarnyalah yang mampu menyelamatkan teman-temannya

Review

Pict book setebal 32 halaman ini pernah meraih penghargaan buku anak-anak Nothingham untuk kategori pendidikan dasar pada tahun 2005.

Seperti yang tertulis di blurp, isi cerita dalam buku ini sederhana. Anak-anak juga bisa sekalian belajar berbahasa inggris karena di Indonesia, duku ini dicetak bilingual.

Moral story dari buku hiu murah senyum adalah mengajarkan anak-anak untuk tidak mudah menghakimi seseorang hanya berdasarkan dari penampilannya, Don’t judge the book by its cover.

smiley shark

Advertisements

[TV Show] One Born Every Minute UK

One Born In Every Minutecredit

“Chi, lo mending jangan nimbrung ke sini, deh! Nanti, lo bisa takut. Gabung sama yang lain aja,” kata salah seorang teman yang sedang asik ngobrol dengan seorang teman saya lainnya tentang pengalaman mereka melahirkan normal.

Terkesan kasar? Enggak juga, sebenarnya. Kedua teman saya itu sudah pernah melahirkan. Sedangkan saat itu, saya masih mengandung anak pertama. Mereka khawatir, kalau mendengar cerita pengalaman mereka melahirkan normal, saya akan menjadi ketakutan dan stress. Padahal yang namanya ibu hamil, kan, gak boleh stress. Jadi, saya diminta untuk bergabung dengan teman-teman lain.

Saya tetap memilih bergabung dengan mereka. Saya justru penasaran, seperti apa proses melahirkan normal. Dalam bayangan saya saat itu, membayangkan melahirkan dengan cara caesar justru lebih bikin saya stress. Walopun, akhirnya 2x melahirkan, 2x pula saya operasi caesar hehehe.

Oke, saya gak akan cerita tentang proses melahirkan yang saya alami. Saya justru ingin cerita reality show One Born Every Minute UK yang sering saya tonton di Lifetime Channel. Reality show tentang proses melahirkan gitu. Nah, kalau ada yang takut membayangkan, mendingan jangan baca postingan ini :p

Di setiap episode, biasanya ada 2 perempuan yang akan melahirkan secara normal. Ya, di reality show dari Inggris  ini, cuma menceritakan proses melahirkan normal. Kalaupun akhirnya ada yang operasi (tapi jarang banget), setelah menjalani proses normal dulu.

Sepanjang tanyangan yang di tunjukkan hanya di seputaran rumah sakit. Bahkan, di kamar yang akan melahirkan aja kebanyakan. Sesekali memang ditayangkan wawancara singkat  tentang kehidupan mereka, dari mulai jatuh cinta hingga berkeluarga. Dan, gak semuanya itu sudah terikat pernikahan. Ada juga yang hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Tapi, gak usah dibahas panjang tentang hal itunya, ya. Karena yang akan saya ceritakan adalah tentang proses melahirkannya.

Walopun hanya di kamar dan semua melahirkan secara normal, tapi selalu ada aja yang berbeda. Kondisi fisik setiap ibu melahirkan berbeda-beda. Ada yang terus-terusan menangis, ada yang keliatan biasa aja, malah pernah ada yang tetep full make up waktu mau melahirkan.

Cara melahirkan pun berbeda-beda. Ada yang terlentang, miring, nungging, dan lainnya. Walaupun begitu, untuk bagian-bagian privasi perempuan, semua di blur. Jadi, jangan harap bisa melihat bagian-bagian tersebut secara jelas, ya.

Mereka semua melahirkan di rumah sakit dengan peralatan yang canggih dan ditangani oleh bidan. Dan, semua bidannya perempuan yang ramah-ramah. Kalau memang terjadi sesuatu hal, dimana tidak memungkinkan untuk melahirkan normal baru diminta untuk melakukan operasi. Kalau udah masuk ruang operasi, tentu bukan bidan lagi yang menangani, tapi sudah dokter. Dan, kalau sudah masuk ruang operasi bisa ditangani oleh dokter laki-laki.

Gak cuma tentang cara melahirkan normal beserta ekspresi para perempuan yang sedang melahirkan. Para pria pun beragam karakternya ketika istri atau pasangan hidupnya sedang berjuang ternyata.

Ada yang kelihatan kalut. Mondar-mandir di lorong rumah sakit terus. Sambil ngedumel tentang kelakuan istrinya yang nangis terus. Yeeeaaayyy, itu suami gak ngerasain, sih, gimana mulesnya saat kontraksi, ya hehehe. Ada yang tenang dan tetap menemani pasangannya. Tapi, ada juga yang kelihatan cuek padahal istrinya udah nangis-nangis hihihi.

Bidan yang menangani pun ada sesi wawancara. Menceritakan kondisi, perempuan yang akan melahirkan yang sedang mereka tangani. Dan, cerita pengalaman mereka, suka duka menjadi bidan.

Bagian yang paling saya suka di setiap episode adalah ketika bayinya sudah lahir. Mau selama proses melahirkan kitanya jerit-jerit, suaminya cuek sekalipun, begitu si bayi lahir suasana berubah menjadi haru. Bahkan seorang calon ayah, yang penampilannya urakan sekalipun, bisa terlihat menitikkan air mata ketika bayinya lahir.

Saya juga ikut terbawa suasana, ketika seorang bayi lahir dengan kondisi tanpa tangisan. Suasana terlihat tegang. Saya juga ikut sedih melihat ekspresi ibu yang baru saja melahirkan tersebut terlihat sedih sangat sedih tapi gak bisa menangis. Setelah bayinya bisa menangis dengan kencang, tangisan ibu tersebut pun juga keluar. Tangisan yang lepas tapi bahagia.

Sesekali ada juga cerita sedih, mislanya bayi yang dilahirkan sangat kecil dan beberapa organ belum berkembang. Sedih lihat ekspresi orang tuanya. Kalau seperti itu biasanya akan diperlihatkan gimana perawatan selama di rumah. Dan, setelah bayinya berumur beberapa bulan.

Di salah satu episode, ada yang kasusnya mirip kayak yang saya alami. Udah pembukaan komplit, coba mengejan, tapi posisi bayi memang menyulitkan. Bidan pun menjelaskan resiko-resiko kalau tetap normal atau operasi. Hmmm… persis seperti saya. Cuma bedanya dari awal, normal atau tidak saya ditangani dokter hihihi

Menurut reality show yang satu ini gak dibuat-buat. Walopun mungkin sebelum syuting ada perjanjian-perjanjian tertentu yang harus disepakati. Tapi, untuk kejadiannya sendiri, saya yakin nyata. Rasanya, gak mungkin kalau mereka semua ada yang pura-pura hamil, pura-pura jadi bidan, dan lainnya.

Cerita kehidupan memang seringkali panjang. Tapi, buat saya selalu ada proses mengharukan dan membahagiakan di setiap kelahiran.

[Movie] Hearts On Fire

second-chancescredit

Hearts on fire atau saya harus menyebutnya Second Chances (?), karena saya sejujurnya bingung dengan judul film ini. Film yang tayang di pertengahan 2013 di Hallmark Channel Original Movies ini  diberi judul Second Chances (Pevious tittle adalah Two In). Tapi, di Lifetime Channel, filmnya berjudul Hearts On Fire.

Jalan ceritanya sama persis. Pemain utamanya pun sama, yaitu Alison Sweeney dan Greg Vaughan. Saya gak mencari tau lebih lanjut, kenapa judul filmnya bisa berbeda, karena yang penting adalah saya suka dengan filmnya. Titik! 🙂

Hearts on fire menceritakan tentang Jenny McLean (Alison Sweeney), seorang single mom, bekerja sebagai operator 911. Jenny memiliki sepasang anak, yaitu Elsie (8 tahun) dan Luke (6 tahun).

Sebagai operator 911, Jenny sering berhubungan dengan banyak orang melalui telpon. Salah satunya adalah seorang petugas pemadam kebakaran yang bernama Jeff. Awalnya, mereka tidak mengetahui nama asli masing-masing. Jenny memanggil ‘Cowboy’ untuk Jeff. Dan, Jeff memanggil Jenny itu ’23’. Mereka pun suka saling menggoda melalui telpon.

Ketika Jeff mengalami kecelakaan saat melakukan tugas, Jenny spontan datang menjenguknya sambil membawakan kue. Di situlah pertama kali mereka bertemu secara langsung. Jenny pun memberi nomor telpon melalui kertas yang bertuliskan iklan penyewaan kamar.

Jenny yang saat itu sedang kesulitan keuangan karena ada pemotongan anggaran dari kantornya, berniat untuk menyewakan salah satu kamar di rumahnya untuk mendapatkan uang tambahan. Jeff yang selama masa penyembuhan oleh dokter dilarang keras untuk naik tangga dan memanjat, terpaksa harus mencari tempat tinggal baru karena selama ini dia tinggal di lantai 3.

Jeff pun berniat untuk tinggal di rumah Jenny. Awalnya, Jenny merasa canggung. Tapi, kedua anaknya, yang menjadi penentu siapa yang boleh dan tidak menyewa kamar tersebut, langsung menyukai Jeff sejak  pertama kali bertemu.

Ketika Jenny dan Jeff belum pernah saling bertemu, hanya flirting melalui telpon, tidak ada satupun kata romantis menggoda yang gimaanaaaa gituuu.. Sebetulnya, mereka saling berkomunikasi setiap kali ada insiden. Tapi, ya, namanya kalau diem-diem udah saling suka, cuma denger suaranya aja pasti udah bisa bikin kita senyum-senyum, kan. 🙂

Setelah Jeff tinggal di rumah Jenny pun gak ada yang namanya adegan romantis seperti umumnya film percintaan. Jeff berhasil mendekati anak-anak Jenny tanpa kesan terlihat memaksa. Misalnya, menemani mereka main di halaman rumah, walopun Jeff cuma bisa sambil duduk sementara anak-anak berlarian.

Di saat Elsie, putri Jenny, sempat menolak untuk datang ke acara ulang tahun sahabatnya, Natalie, karena takut kakak Natalie akan mengganggu acara dengan mengeluarkan ular peliharaannya, Jenny pun mengizinkan Elsie untuk tidak datang. Tapi, Jeff berhasil meyakinkan Elsie untuk berani datang dengan memberi “kode-kode rahasia”.

Luke yang mendapat tugas menulis salah satu tokoh terkenal, merasa bosan kalau harus menulis tokoh terkenal yang mainstream, seperti presiden, bunda Theressa, dan beberapa tokoh lainnya. Menurutnya, terlalu biasa dna membosankan, semua orang kalau disuruh menulis tentang tokoh terkenal pasti yang ditulis tokohnya itu-itu aja. Jenny memaksa dengan alasan yang penting tugas selesai. Tapi, Jeff memberi setuju dengan Luke dan menawarkan Harry Houdini untuk ditulis. Luke pun semangat bahkan dia mendapat penialain sangat bagus dari sekolah.

Jeff dan Jenny sebetulnya mempunyai rasa trauma yang mirip-mirip. Rasa kehilangan seseorang yang amat sangat. Suami Jenny meninggalkannya begitu saja saat Elsie berusia 5 tahun dan Luke 3 tahun. Hal itu menimbulkan trauma termasuk untuk anak-anak, dan khususnya Luke yang sangat kehilangan sosok ayah. Sedangkan, Jeff yang ayahnya adalah seorang pemadam kebakaran, tewas saat Jeff berusia 10 tahun.

Seperti yang saya tulis di atas, peran kakak-beradik, Elsie dan Luke juga menggemaskan. Mereka khawatir dengan kesulitan keuangan ibunya dan memutuskan untuk mencari uang secara diam-diam. Dialog-dialog segar khas anak-anak tentang pekerjaan apa yang pas buat mereka, membuat saya senyum-senyum.

Mereka akhirnya memutuskan menjadi pembaca buku cerita di salah satu panti jompo. Awalnya, Luke menolak usul itu. Katanya, kenapa gak setel CD aja? Padahal alasan sebenarnya adalah Luke merasa belum lancar membaca hehehe.

Elsie pun bertanya ke adiknya, “Ketika kamu mesih kecil. Kamu lebih suka mendengar cerita dengan cara didongegin atau distelkan CD?” Luke lantas bilang kalau dia lebih suka didongengin. Jadi, dia pun setuju dengan saran kakaknya.

Mereka diam-diam membuat brosur sederhana. Trus, Elsie bilang kalau harus ada kata profesional di depan kata pembaca buku. Biar terkesan profesional hihihi. Malah, Elsie memutuskan untuk menulis cerita sendiri untuk dibacakan daripada membacakan buku yang sudah ada.

Para lansia pun suka sekali dibacakan cerita oleh mereka. Dengan suka rela membayar ke Elsie dan Luke. Ada bagian dimana di awal, Luke terlihat terbata-bata membacanya, dan kemudian dia menyerah. Dia pun bilang gak usah dibayar karena gak mampu membacakan cerita.

Seorang kakek yang sedang mendengarkan cerita Luke pun memberi saran kalau membaca itu sebaiknya pelan-pelan. Luke merasa kalau membaca pelan-pelan akan membuat pendengar bosan. Setelah dijelaskan kalau membaca dengan pelan justru gak akan bikin bosan, Luke pun mau membaca kembali. Lama-lama dia pun lancar membaca.

Ketika hubungan semakin dekat, gak seru, dong, kalau gak ada konfliknya. Saat Jenny sedang bertugas, dia dihubungi kalau sedang terjadi pengejaran antara pencuri kendaraan dengan polisi. Sebagai operator 911, dia harus terus berkomunikasi dengan petugas polisi. Yang kemudian salah satu petugas tersebut tabrakan dan tewas.

Kejadian tersebut bikin Jenny terkejut. Dia jadi berpikir, mempunyai pasangan dengan pekerjaan yang beresiko tinggi itu menakutkan. Dia gak ingin, seandainya ketika sudah bersama dengan Jeff, akan mendengar kabar kalau Jeff tewas. Dia gak ingin dirinya dan anak-anak trauma kedua kalinya.

“Pertama, aku sangat mengerti ketakutanmu. Tapi, yang gak bisa aku mengerti adalah… kenapa kamu membiarkan hidup dengan pikiran ‘seandainya’?” kata Jeff ketika Jenny meminta putus

Hearts on fire, ceritanya sederhana banget sebetulnya. Kisah cinta romantis tapi tanpa terlihat nafsu yang meletup-letup. Bahkan bisa juga dibilang kisah keluarga. Beberapa kali dialog tentang keluarga, terutama percakapan antara 2 kakak-beradik, Elsie dan Luke, bikin saya gemas. Kekuatan film ini ada di dialognya yang sederhana, tapi mengena bagi saya.

Diantara beberapa dialog yang saya suka adalah tentang pikiran ‘seandainya’ itu. Mak jleb! Mungkin, karena saya kadang suka begitu kali, ya. Jadi berasa juga hahaha.

Endingnya udah bisa ditebak juga, sih. Happy ennding alias jadian. Tapi, cara Jeff menyelesaikan keraguan Jeany dengan pikiran ‘seandainya’ itu. Yang namanya perempuan mikirnya suka pake perasaan, sedangkan laki-laki lebih ke logika (katanya, sih, begitu). Nah, Jeff ini bisa menyelesaikan dengan cara ‘karena wanita ingin dimengerti” hehehe.

Pokoknya, saya suka sama film ini. Makanya, reviewnya juga lumayan panjang hahaha. Dan, gara-gara film ini juga kepala saya sakit. Abis 2x kali nonton berturut-turut. Baru tidur pukul 02.30 dinihari, pagi-pagi udah harus bangun. Tapi, kalau nonton lagi, saya juga gak keberatan, kok 😀

[TV Show] There’s No Taste Like Home

There's No Taste Like Home

credit

There’s No Taste Like Home adalah sebuah kompetisi memasak yang tayang di Li Tv. Dibawakan oleh seorang celebrity chef, Gino D’Acampo.

Setiap episode, ada 3 orang peserta yang ikut kompetisi. Mereka bukanlah chef. Mereka hanyalah orang yang suka memasak di rumahnya masing-masing. Para peserta akan memasak 1 masakan utama yang menjadi andalan mereka di rumah untuk dimasak di dapur sebuah resto. Karena untuk dimasak di restoran, tentu aja tampilan masakan tersebut dibikin cantik tanpa merubah resep aslinya.

Pemenang di setiap episode, menu masakannya akan menjadi salah satu menu utama di resto tersebut selama sebulan. Yang menjadi juri adalah pemilik resto dan head chef di resto tersebut, serta Gino D’Acampo.

Yang paling bikin saya suka dari There’s No Taste Like Home bukanlah masakannya. Ya, memang ada beberapa masakan yang kelihatannya menggiurkan. Tapi, banyak juga masakan yang menu utamanya adalah daging babi. Sesuatu yang tentunya gak mungkin saya santap.

Bukan juga karena melihat gimana grabak-grubuknya para peserta dari mulai memasak hingga menyajikan makanan yang dipesan. Seru, sih, karena biar gimana mereka tidak punya pengalaman sebagai chef.

Tapi, bagian yang paling suka adalah cerita di balik masakan tersebut. Masakan yang dimasak tidak hanya sekedar andalan. Ada cerita nostalgia dibaliknya.

Ada peserta yang bercerita kalau kakek buyutnya adalah dulunya termasuk chef kerajaan. Dan, masakan tersebut adalah kesukaan raja yang memimpin saat itu. Ada juga yang cerita kalau masakan yang akan dimasak, dulu adalah masakan untuk para tentara. Karena buyutnya adalah tukang masak saat itu.

Ada juga yang bercerita tentang kisah cinta romantis dibalik masakan tersebut. Ada yang bernostalgia kalau dulu dia miskin. Jadi, masakan tersebut merupakan sebuah masakan mewah yang sangat ditunggu-tunggu, karena hanya ada di hari spesial.

Macam-macam ceritanya. Udah gitu, mereka yang berkompetisi kebanyakan keturunan ke-3, ke-4, bahkan lebih. Jadi, masakan yang akan mereka masak itu memang sudah turun temurun sekian lama. Benar-benar melegenda di keluarga mereka, begitu juga dengan cerita di baliknya.

Mamah saya itu pintar sekali memasak. Rasanya gak ada masakannya yang gak enak. Tapi, setelah nonton There’s No Taste Like Home, saya baru sadar kalau gak pernah tau apakah ada cerita dibalik setiap masakan mamah. Rasanya, sih, gak ada. Masak ya masak aja, yang penting enak hihihi.

Bahkan, saya pun rasanya juga gak punya cerita khusus dibalik setiap masakan saya. Gak apa-apa juga, sih. Tapi, kayaknya seneng juga, ya, kalau paling tidak ada 1 masakan yang memang ada cerita dibaliknya 🙂

[Tv Show] Put Your Money Where Your Mouth Is

Put Your Money Where Your Mouth Is
credit

Put Your Money Where Your Mouth Is adalah sebuah acara lomba memasak di tv antar 2 chef yang sudah ternama di setiap episodenya. Di setiap episode, 2 orang chef tersebut ditantang untuk membuat 3 masakan, yaitu masakan pembuka, utama, dan penutup.

Mungkin dalam bayangan kita, gak akan sulit bagi seorang chef membuat 3 masakan tersebut. Apalagi yang berkompetisi adalah chef-chef ternama di Inggris. Ya, mungkin kalau ‘hanya’ sekedar memasak tidak akan sulit bagi mereka. Teknik mereka udah jago. Tapi, di acara tersebut para chef gak hanya ditantang untuk memasak, mereka juga ditantang untuk bisa berjualan.

2 orang chef diminta untuk membuat 3 masakan tersebut di resto yang sudah ditunjuk. Diakhir tayangan, chef yang berhasil mengumpulkan laba terbanyak menjadi pemenangnya. Dan uang hasil penjualan tersebut akan disalurkan ke lembaga sosial yang sudah ditunjuk oleh para chef yang berkompetisi.

Bagi, saya yang menarik di acara ini adalah bagian menjual masakannya. Mereka ditantang untuk berstrategi di sana. Apalagi resto yang ditunjuk bukanlah zona nyaman mereka. Misalnya, di salah satu episode di tunjuk salah satu resto karibia. 2 orang chef tersebut tidak ada yang pernah memasak masakan karibia.

Strategi yang saya lihat di Put Your Money Where Your Mouth Is adalah:

  1. Pengeluaran minimal, penghasilan maksimal – di setiap episode, para chef mempunyai modal yang sama. Biasanya antara 400-500 poundsterling, tergantung restonya. Dan, modal tersebut harus cukup untuk membeli bahan-bahan makanan hingga makanan penutup. Syukur-syukur jangan habis semua, biar bisa buat nambah laba. Tapi, ada juga chef yang gak ragu belanja mahal karena yakin masakannya bakal laku. Di sini diperlihatkan, bagaimana mereka bernegosiasi dengan para supplier supaya mendapatkan harga murah. Kadang, ada tips-tips juga dari mereka, gimana caranya membeli bahan baku yang murah tapi tetep kelihatan mewah hasilnya. Trus, gimana mereka menentukan harga setiap hidangan tersebut.
  2. Kenali pasar – Teknik masak udah pasti jago deh mereka. Tapi, gak otomatis masakan mereka bakal laku, lho. Contohnya, di resto Karibia, ternyata pelanggannya kebanyakan suka yang tradisional alias masakan asli Karibia. Jadi, ketika ada salah satu chef yang senang bereksperimen, akhirnya kalah. Ketika ada tantangan masak di resto gastronomy, shef yang paling berani bereksperimen jadi pemenangnya. Di acara itu juga gak selalu resto mewah, kok, Jadi, menentukan harga pun harus tepat. Ada resto yang pelanggannya rela bayar mahal, tapi ada juga yang enggak.
  3. Menarik hati pelanggan – Untuk makanan pembuka dan utama, chef sudah menentukan harga jual. Untuk makanan penutup harga jual gak ditentukan alias terserah pelanggan mau bayar berapa. Sebelum makanan penutup dihidangkan, para chef akan keluar dari dapur dan menemui pelanggan. Mereka akan berpromosi makanan penutupnya. Ada yang dengan cara merayu, ada yang formal, bahkan ada yang ‘menjatuhkan’ chef lain. Kalau saya perhatikan, apapun caranya jualnya, yang paling banyak menjual adalah makanan yang kelihatannya enak.

Setiap chef, mendapat tiga kali tantangan alias 3 episode. Misalnya, Chef A vs Chef B akan berkompetisi selama 3 episode dengan 3 resto yang berbeda. Dan, gak selalu yang jadi pemenang adalah chef yang itu-itu terus. Tergantung apakah strategi yang mereka pasang tepat atau enggak.

Asik lihatnya. Bisa dijadiin pelajaran juga buat saya, siapa tau suatu saat pengen buka usaha (lagi). Pelajaran kalau yang namanya bisnis itu mempunyai strategi adalah sesuatu yang penting.

Dan, yang saya suka lagi di Put Your Money Where Your Mouth Is adalah gak ada yang namanya berantem-berantem gak jelas. Alias drama-drama yang berlebihan. Termasuk sportif, mereka berkompetisinya. Kayaknya saya memang udah mulai jenuh dengan realty show yang terlalu banyak dramanya 🙂

[Tv Show] Wife Swap

Wife SwapWife Swap adalah tayangan reality show dari USA yang biasa saya tonton di lifetime channel. Setiap episode Wife Swap memperlihatkan 2 keluarga saling bertukar istri selama 2 minggu.

Apaaa??? Tukeran Istriiiii?? *Berteriak sambil berekspresi kayak pemain sinetron

Tenaaanngg! Walaupun saling bertukar istri, gak ada adegan romantis di sini. *Ya iyalah! Masa’ mau romantisan sama istri orang hehehe

Secara sederhana, ada 4 tahap dari setiap episode. Pertama, para istri yang ditukar (kayak judul sinetron, ya :p) akan diminta beradaptasi sekaligus mengamati situasi di keluarga barunya.

Kedua, 1 hari kemudian si istri kemudian ratu di rumah itu dengan membuat beberapa peraturan. Ada peraturan rumah yang diperbaiki ada pula yang diubah total. Dan itu berlaku selama 2 minggu

Ketiga, setelah 2 minggu, kedua keluarga (tanpa anak-anak) saling bertemu. Menceritakan pengalaman serta memberi kritik-saran yang suka diisi dengan pertengkaran walopun akhirnya saling berbaikan *Ya, namanya juga reality shoe 😀

Keempat, setelah beberapa minggu, kedua keluarga akan diliput lagi. Apakah kehidupan mereka tetap sama atau ada perubahan walaupun sedikit.

Yang menarik, acara Wife Swap seperti ‘membenturkan’ 2 keluarga yang saling bertentangan. Misalnya, keluarga yang sangat tradisional (gak mengenal teknologi) di tukar dengan keluarga yang sangat modern. Keluarga yang snagat religius ditukar dengan keluarga yang percaya mistis. Dan lain sebagainya.

Bertukar dengan keluarga lain yang latar belakang sangat bertolak belakang tentu aja bukan pilihan mudah. Seperti seorang istri yang keluarganya religius, menjadi ketakutan setiap saat. Sampai bilang kalau kemana-mana, bahkan tidur sekalipun, selalu memeluk alkitab.

Istri yang selalu memperhatikan takaran makanan dan kesehatan, awalnya kesulitan ketika mengatur keluarga barunya yang sangat gemar makan. Meminta keluarga barunya berdiet dan berolahraga, itu gak mudah.

Ketika kedua keluarga saling bertemu, awalnya suka saling ribut. Masing-masing mengatakan ada yang perlu diperbaiki dari keluarga barunya itu. Tapi, kemudian disanggah kalau keluarga mereka baik-baik aja. Yaaa.. pada gak mau terima kritikan duluan. Walopun akhirnya saling baikan.

Di akhir episode, diperlihatkan keadaan masing-masing keluarga. Biasanya ada sedikit perubahan. Kayak keluarga yang sangat tradisional itu. Setelah dikritik kalau mereka tidak memberikan anak-anaknya bermain, mereka kemudian memberikan waktu bagi anak-anaknya 10 menit setiap hari untuk main gadget. Selebihnya, ya, tetep bantuin orang tua beternak dan berladang hehe. Tv dan microwave pun dikeluarin. Kembali ke tradisional.

Begitu juga dengan keluarga yang modern itu. Tadinya, si istri seneng banget dugem. Anaknya diasuh sama pengasuh laki-laki yang kalau malem jadi temen si istri ngedugem (suaminya gak protes :D). Katanya, sih, setelah ikut Wife Swap brenti ngedugem. Pengasuh anaknya pun akhirnya mengundurkan diri karena si istri udah sering di rumah.

Salah satu contoh lagi di acara itu adalah ketika ada keluarga yang sangat suka makan bersama di rumah. Si istri juga sangat suka memasak. Masakan (yang menurut mereka) enak dan berlemak dengan porsi yang besar. Menurut mereka, waktu makan bersama adalah saatnya kebersamaan.

Sementara, keluarga lainnya adalah keluarga yang sangat menjaga bentuk tubuh dan juga untuk kesehatan. Takaran dan kandungan gizi makanannya sangat dijaga. Makan pun masing-masing karena makan bersama hanya akan membuat keluarga makan lebih banyak. Dan, itu gak bagus untuk bentuk tubuh katanya. Tidak ada kebersamaan.

Lebih baik mana? Sama aja. Keluarga yang suka makan, kebersamaannya berasa banget. Tapi, secara fisik mereka sekeluarga overweight. Sementara keluarga lain, postur tubuhnya seimbang. Tapi, gak ada kehangatan dalam keluarga.

Lihat, kan? Gak ada keluarga yang lebih baik dari keluarga lainnya. Semuanya sama. Ada plus-minusnya.

Awalnya bahkan sampe sekarang, saya menganggap ide reality show ini cukup gila. Walopun gak ada adegan romantis, tapi yang namanya ‘tukeran istri’ rasanya gimanaaaa gitu. Masih asing buat saya 😀

Memang ide reality show itu cukup gila. Tapi, pesan yang bisa saya ambil adalah, Jangan terlalu suka ikut campur urusan rumah tangga orang, deh. Setiap rumah tangga tidak ada yang sempurna. Selalu ada positif da negatif di dalamnya. Jadi, bukan berarti kita berhak mengatur telalu dalam, apalagi sampe berantem. Cukup kasih saran secukupnya aja, itupun serahkan ke pilihan setiap orang untuk menerima saran tersebut atau tidak.

[TV Show] Jo Frost : Extreme Parental Guide

jo frostcredit

Beberapa tahun lalu, saya sempet suka banget sama acara Nanny 911, bahkan sempet bikin tulisannya di blog yang lain dengan judul yang sama yaitu Nanny 911.

Nah, kalau sekarang saya lagi suka banget sama acara Jo Frost : Extreme Parental Guide. Sama-sama tentang parenting dan banyak tips bagus yang bisa kita dapetin.

Kalau boleh sedikit membandingkan, saya lebih suka acara Jo Frost ini karena lebih sesuai dengan realita. Maksudnya, setiap kali nonton Nanny 911, saya suka bertanya-tanya, “Apa iya permasalahan anak bisa selesai hanya dalam waktu 1 minggu?”. Tapi terlepas dari ‘keanehan’ itu, saya tetep suka acara Nanny 911 karena alsan banyak tips parenting yang bagus. Walaupun mungkin kalau saya yang praktekin bisa lebih dari 1 minggu selesainya.

Sementara kalau Jo Frost untuk 1 permasalahan bisa sampai hitungan minggu bahkan bulan (walaupun tetap dikemas dalam 1 episode). Jo Frost sendiri beberapa kali mengatakan kalau hubungan orang tua-anak terkadang seperti sebuah pertempuran. Untuk banyak hal orang tua harus menang, tapi caranya yang harus diperhatikan. Tips-tips parentingnya pun sama bagusnya kayak Nanny 911.

Hmmm … kayaknya setiap kali abis nonton Jo Frost, sy jadi punya ide postingan untuk saya tulis di blog http://www.kekenaima.com, nih. Paling gak untuk pengingat saya dalam hal parenting 🙂

Sambil nunggu tayangnya yang seminggu sekali di LifeTime Channel, saya mampir ke webnya aja dulu 🙂